//
you're reading...
Uncategorized

Perintah Taat Terhadap Allah, Rasul Dan Ulil Amri Dan Penegakkan Hukum

 

  1. A.    Al-Qur’ an surah An-nisa ayat 59 dan surah Al-maidah ayat 49.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Terjemah :       hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulny  dan ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.

 

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Terjemah :       Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa  yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling dari hokum yang telah diturunkan Allah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musbah kepada mereka disebabkan  sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Berkaitan dengan ayat di atas, sepanjang penulusuran yang kami lakukan  bahwa kata  ا أَطِيعُوا  sangat sering  berulang dalam  Al-Qur’an. Kata berulang sampai 79 kali dengan segala perubahan katanya. Khusus untuk kata di atas berulang sampai 19 kali.[1] Mengapa kami memilih kata tersebut untuk dikaji, kata tersebut merupakan inti dari ayat tersebut.

Kemudian kata selanjutnya yang kami teliti adalah kata احْكُمْ  yang merupakan potongan dari ayat 49 surah An-nisa. Kata ini berulang sampai 7 kali dan berulang sampai 203 kali dengan seluruh perubahan katanya. [2]

Menurut hemat kami bahwa meneliti ayat yang berkaitan dengan taat dan hukum merupakan hal yang sangat menarik, karna sebagian besar isi dalam Al-Qur’an membahas tentang hukum. Itu berarti membahas tema ini sama halnya membahas sebagian besar isi dalam Al-Qur’an. Buktinya saja ayat-ayat yang berkaitan dengan tema ini begitu banyak. Kami dapat mengambil kesimpulan bahwa berulang sampai beberapa kali karna begitu pentingnya dalam masyarakat.

  1. A.      Penafsiran para Ulama tafsir

1. surat An-nisa ayat 59

Pada Ayat 59 surat An-nisa dan ayat sesudahnya masih berhubungan erat dengan ayat ayat yang lalu, mulai dari ayat yang memerintahkan untuk beribadah kepada Allah serta berbakti kepada orang tua. Perintah-perintah itu, mendorong manusia untuk menciptakan masyarakatyang adil dan makmur, taat kepada Allah dan Rasul serta tunduk kepada ulil Amri, menyelesaikan perkara berdasrkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan  Sunnah

Ketika menafsrkan QS Al-imran ayat 35  Prof Quraish Shihab mengemukakan bahwa kalau diamati ayat-ayat Al-Qur’an  yang memerintahkan taat kepada Allah dan rasulnya, ditemukan dua redaksi yang berbeda.[3] Sekali perintah taat kepada Allah dirangkaikan perintah taat kepada Rasul tanpa mengulangi kata taatilah seperti pada QS. Al-imran ayat 35 dan pada surat An-nisa  ayat 59 kata taatilah diulangi , masing-masing  sekali ketika memerintahkan taat kepada Allah dan sekali memerintahkan taat kepada Rasulnya.

Para pakar Al-Qur’an menerangkan bahwa apabila perintah taat kepada Allah dan Rasulnya digabung dengan menyebut dengan hanya satu  kali kata taatilah, maka hal itu mengisyaratkan bahwa ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan yang diperintahkan Allah , baik yang diperintahkan secarea langsung di dalam Al-Qur’an maupun perintahnya yang dijelaskan  oleh Rasul  menyangkut hal-hal yang bersumber dari Allah, bukan beliau perintahkan secara langsung. Adapun bila perintah taat diulangi, maka disitu rasul mempunyai wewenang serta hak untuk ditaati walaupun tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an.[4] Itu sebabnya perintah taat kepada ulil amri tidak disertai kata taat karena mereka tidak memiliki hak untuk ditaati bila ketaatan terhadap mereka bertentangan dengan ketaatan kepada Allah atau Rasulnya.[5]

Pendapat ulama berbeda tentang makna kata ulil Amri . dari segi bahasa kata  Uli  adalah bentuk jamak dari  Wali  yang berarti pemilik atau yang mengurus dan menguasai. Bentuk jamak dari kata tersebut menunjukkan bahwa kalau mereka banyak.  Sedangkan kata  Al-amri adalah perintah atau urusan . dengan demikian   ulil Amri adalah orang yang berwewenang mengurus urusan kaum muslimin.[6]

Perlu dicatat bahwa kata Al Amru  berbentuk makrifat.. ini menjadikan banyak ulama membatasi wewenang pemilik kekuasaan itu hanya pada persoalan-persoalan kemasyarakatan, bukan persoalan aqidah.[7]

Dari penjelasan ulama di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa taat terhadap ulil amri hanya taat karena adanya pelimpahan wewenang hokum yang berguna untuk mengatur kesejahteraan rakyat. Berbeda dengan ketaatan terhadap Allah dan  Rasulnya. Kemudian arti taat bukan berarti menerimah mentah-mentah perintah tersebut. Tetapi kritis dan ikhlas sepenuh hati melakukannya.

 Di lain pendapat pada ayat ini dengan sendirinya  menjelaskan bahwa masyarakat manusia, dan di sini dikhususkan  masyarakat orang yang beriman, mestilah tunduk kepada peraturan. Peraturan yang maha tinggi ialah peraturan Allah. Inilah yang pertama kali wajib  ditaati.[8] Allah telah menurunkan peraturan itu dengan mengutus rasul-rasul dan penutup segala rasul itu adalah Nabi Muhammad SAW. Rasul-rasul  membawa undang-undang tuhan yang termaktub  di dalam kitab-kitab suci seperti taurat, zabur, injil, dan Al-Qur’an. Maka isi kitab suci itu semua pokoknya ialah untuk kesalamatan dan kebahagiaan kehidupan manusia. Ketaatan kepada Allah mengenai tiap-tiap diri manusia walaupun ketika tidak ada hubungannya dengan manusia lain. Umat beriman disuruh terlebih dahulu taat kepada Allah, sebab apabila dia berbuat baik, bukanlah semata-mata karena takut terhadap manusia dan bukann pula karena semata-mata mengharapkan keuntungan duniawi dan jika dis meninggalkan berbuat suatu pekerjaan yang tercela, bukan pula takut terhadap ancaman  manusia. Dengan taat kepada Allah menurut agama,  berdasar iman kepada tuhan  dan hari akhirat manusia dengan sendirinya menjadi baik. Dia merasa bahwa siang dan malam  tidak lepas dari penglihatan dan pengamatan tuhan.[9]

Kemudian itu orang yang beriman  diperintahkan pula taat kepada Rasul. Sebab taat kepada rasul adalah merupakan lanjutan dari taat kepada Allah. Banyak perintah tuhan yang wajib ditaati, tetapi tidak dapat dijalankan tanpa melihat contoh yang teladan. Maka contoh teladan itu adalah rasul. Derngan taat kepada Rasul  barulah sempurna beragama. Sebab banyak orang yang percaya kepada Tuhan tetapi dia tidak beragama. Sebab dia tidak percaya kepada Rasul. Maka dapatlah disimpulkan  bahwa perintah taat kepada Allah dan Rasul itu dengan teguh memegang  Al-Qur’an dan As-sunnah.[10]

Menurut pendapat Prof Hamka bahwa kata  minkum  pada ayat 59 surat An-nisa mempunyai dua arti yaitu, pertama di antara kamu yang kedua daripada kamu.[11] Maksudnya  yaitu yang berkuasa itu adalah dari kamu juga, naik dan terpilih atas kamu juga dan kamu mengakui kekuasaannya.

Sejak  Rasulullah berhijrah dari Makkah ke Madinah, sehari setelah sampai di Madinah itu telah berdiri suatu kekuasaan atau pemerintahan islam yang Nabi sendiri yang memegang tampuk pemerintahan itu. Di kiri kanannya berdirilah beberapa pembantu. Pembantu utama ialah para sahabat yang termasuk Khulafah Ar-Rasyidin.[12]

Urusan kenegaraan dibagi dua bahagian. Yang mengenai agama semata-mata dan yang mengenai urusan umum. Urusan semata-mata menunggu wahyu dari tuhan tetapi urusan umum seumpama peran dan damai ,membangunkan tempat beribadat dan bercocok tanam diserahkan kepada kamu sendiri. Tetapi dasar utamanya adalah syura yaitu permusyawaratan. Dari hasil syura ialah menjadi keputusan yang wajib ditaati oleh  seluruh orang beriman. Yang bertugas menjaga hasil syura ialah  Ulil Amri.[13]

Supaya ketaatan kepada Ulil Amri itu dapat dipertanggungjawabkan , urusan-urusan duniawi hendaklah di musyawaratkan. Bahkan perintah-perintah  Allah sendiripun , mana kelancarannya berkehendak pada duniawi hendaklah dimusyawaratkan.

Tentang Ulil Amri setengah ulam berpendapat bukan ulama agama saja bahkan termasuk juga panglima-panglima perang dan penguasa-penguasa besar, petani-petani dalam Negara.[14] Moh  Abduh berpendapat  di zaman modern kita ini direktur-direktur pengusaha besar, professor, sarjana  di berbagai bidang, wartawan dan lain-lain yang terkemuka di masyarakat adalah Ahlul Halli Wal Aqdi (ahli mengikat dan menguraikat ikat). Berhak diajak bermusyawarah.[15]

Oleh sebab itu maka jelaslah bahwa islam memberikan lapangan luas sekali tentang siapa yang patut dianggap Ulil amri, yang patut diajak musyawarah pemungutan suara atau kepala pemerintahan saja menunjuk siapa yang patut, yaitu lalu diakui dan ditaati oleh orang banyak.

Dari sinilah penulis mencoba memaparkan bahwa inti dari ayat ini adalah kesejahteraan terhadap suatu Negara, apabila urusan urusan itu adalah urusan kenegaraan maka urusan itu juga menjadi urusan keagamaan. Karena memperjuangkan Negara adalah hal yang diperintahkan oleh agama. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang yang lebih membutuhkan penjelasan peersoalan-persoalan kenegaraan maka hal yang paling urgen yang perlu dibahas dalam hal ini adalah pemerintah dan pemerintahan. Pemerintahan sekarang sangat berkaitan erat dengan agama, karena negaralah yang menjadi penggerak utama dalam masyarakat.

Begitu pentingnya persoalan Negara sampai ketika nabi wafat maka pemakamannya ditunda sampai ada pemimpin yang menggantikan beliau. Begitupula ketika Abu Bakar yang berwasiat supaya umar menjadi penggantinya.

Namun bagaiman ketika seorang Ulil Amri yang berlaku zalim maka itupula harus ditindak keras, karena nasib masyarakat sangat bergantung pada akhlak seoorang pemimpin.

Seperti yang dialami oleh Negara kita sekarang yang pemerintahan yang terombang-ambing sehingga lahirlah ketidak jelasan terhadap Negara ini. Contohnya saja dalam hal keadilan, Negara kita masih jauh dari nilai-nilai keadilan. Bayangkan seorang nenek yang mengambil sebiji buah coklat dihukum sampai beberapa bulan sedangkan koruptor yang mengambil uang rakyat atau Negara yang sampai teriliunan dan miliaran begitu alur dan lambat dalam menanganinya. Ketika memutuskan sebuah perkara itupun tidak sesuai dengan hukuman  yang seharusnya diterimah. Maka dari itu hendaklah kita sebagai umat mampu mengikuti dengan baik apa yang menjadi aturan Allah, Rasul dan para ulil Amri. Sehingga Negara kita damai, aman, dan sentosa.

 

2. Surat Al-maidah ayat 49.

Sekali lagi melalui ayat ini, Allah mengulangi perintahnya menetapkan hokum sesuai dengan apa yang diturunkannya, yang telah diperintahkannya pada ayat yang lalu. Ayat yang lalu menunjukkan konsekuensi turunnya petunjuk ilahi, dan perintah pada ayat ini adalah karaena apa yang telah diturunkan itu merupakan kemaslahatan manusia. Perintah ini ditekankan, karena orang-orang yahudi dan yang semacam mereka tidak henti-hentinya berupaya menarik hati kaum muslimin dengan berbagai cara.

            Kemudian potongan ayat yang berarti: supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan kepadamu, ayat ini menekankan kewajiban berpegan teguh terhadap apa yang diturunkan Allah secara utuh dan tidak mengabaikannya walau sedikitpun.. di sisi lain hal ini mengisyaratkan bahwa lawan-lawan umat islam senantiasa berusaha memalingkan umat islam dari ajaran islam walaupun hanya sebagian saja.[16] Dengan meninggalkan sebagian ajarannya, keberagaman umat islam akan runtuh. Karena sel-sel ajaran isalam sedemikian terpadu, mengaitkan sesuatu yang terkecil sekalipun dengan Allah SWT.

Menurut sepengetahuan kami, bahwa setiap ayat yang turun pasti terkhusus kepada Nabi. Dari sinilah kita dapat menyimpulkan bahwa Rasul saja yang kita anggap ma’shum menerimah ayat ini apa tah lagi kita sebagai umat yang jauh dari kesempurnaan. Di sisi lain ayat ini membuktikan bahwa adanya pemeliharaan Allah terhadap hambanya.

Kemudian lanjutan ayat selanjutnya yaitu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah hendak menimpakan musibah kepada mereka, merupakan hiburan kepada Nabi SAW. Yang menghadapi keengganan orang yahudi dan nasrani menerimah ajakan beliau. Selanjutnya penggalan kata selanjutnya pada potongan ayat tersebut, sengaja dicantumkan untuk mengisyaratkan bahwa penyampaian hakikat itu adalah sebagai pengajaran kepada Nabi dan siapapun tentang kehendak  Allah dalam pengertian di atas, sehingga karena itu merupakan kehendaknya, maka tidak wajar keenggana mereka beriman melahirkan kesedihan.[17]

Kemudian penggalan kalimat: disebabkan sebagian dosa-dosa mereka, mengandung makna bahwa sebagian dosa mereka yang lain, Allah abaikan karena memang rahmatnya sedemikian luas dan pengampunannya sedemikian besar, sehingga sebagian dosa manusia diampuni sesuai dengan firmannya.[18]

            Selanjutnya potongan ayat sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Artinya tidak sedalam-dalamnya mengikuti tuntunan agama kebanyakan manusia menyalahi tuntunan Allah yang menentang yang hak.[19]

Muhammad bin ishak meriwayatkan dari ibnu Abbas berkata: terjadi percakapan anatara Ka’ab bin Asad dan Abdullah bin Syiria dan Syas bin Qais mereka berkata:    marilah pergi  menemui Muhammad kalau dapat mempengaruhi atau menyelewenkan dia dari agamanya maka mereka dating kembali dan berkataya Muhammad anda telah mengetahui bahwa kami pendeta, guru dari kaum yahudi dan terkemuka di antara mereka dan bila kami ikut kepadamu pasti orang yahudi mengikuti kami dan tidak ada yangt menentang kami dan kini terjadi sengketa antara kami dengan suku yang lain kami akan mengajak mereka bertahkim kepadamu jika kamu berjanji memenangkan kami, kami akan percaya kepadamu namun Nabi menolak.[20]

Memenangkan yang salah dan mengalahkan yang benar adalah hokum jahiliyyah yang sekarang lebih favorit disebut hokum rimba. Siapa yang kuat,  kaya dan punya kekuasaan maka itulah yang menang. Pengaruh karena  ketinggian kedudukan , karena dia pemuka agama, karena mungkin bangsawan,  karena dia disegani menjadikan  semuanya menjadi fakta utama di dalam mempertimbangkan hokum.

Di sinilah terasa beratnya memikul tugas menjadi ulama dalam islam. Disamping memperdalam ilmu tentang hokum, memperluas ijtihad, hendaklah pula ulama kita meniruulama pelopor zaman dahulu.

Melihat inti dari ayat ini adalah bagaiman menegakkan hokum setegas-tegasnya, mampu menentukan kebenaran dan kesalahan. Dalam hal ini mampu berlaku adil terhadap semua golongan tanpa memandang bulu warna dan martabat. Suatu perkara yang melanda Negara kita sekarang adalah banyaknya terjadi KKN yang mana banyak membuat Negara ini melarat dan tertinggal jauh dari Negara-negara maju lainnya. Tugas kita sebagai penerus bangsa harus mampu memerangi masalah KKN itu.

  1. B.     Munasabah ayat.

Berbicara soal munasabah ayat, tentu saja kita akan membahas dan berusaha mekorelasikan ayat ini sesuai dengan makna,  kandungan dan asbabun nuzul ayat tersebut.

Berdasarkan asbabun nuzul, ayat 59 surat An-nisa turun mengenai Abdullah bin Hudzafah bin Qais sewaktu di utus oleh nabi memimpin suatu pasukan tempur. Ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibni Abbas.[21]

Ad-dawudi berkata:  riwayat ini mereka menyalah gunakan nama Ibni Abbas, karena sesungguhnya  Abdullah bin Hudzafah ketika berangkat dan  keluar bersama pasukannya, ia marah-marah, lalu ia menyalakan api dan berkata: terjunlah kalian, maka sebagian mereka banyak yang menolak  dan sebagian lagi banyak yang terjun ke dalamnya. Ad-dawudi berkata lagi: sekiranya ayat ini diturunkan sebelumnya, mengapa dikhususkan pada Abdullah bin Hudzafah untuk mentaatinya bukan yang lain.[22] Ini berarti bahwa ayat ini turun karna adanya sebagian pasukan yang menolak untuk turun berperang.

Kemudian sebabb turun ayat 49 surat Al-maidah, diriwayatkan oleh ibnu ishak yang bersumber dari ibni Abbas bahwa Ka’ab bin Usaid Abdullah  bin suraya dan Saisy bin Qais berkata: pergilah kalian bersama kami menghadap Muhammad, mudah-mudahan kami dapat memalingkannya dari agamanya. Sesampainya di tempat Nabi mereka berkata;  ya Muahammad sesungguhnya kamu tau bahwa kami adalah pendeta-pendeta Yahudi, orang-orang terhormat, ketika kami mengikuti jejakmu maka orang yahudi akan mengikuti jejakmu ketika kamu memenangkan kami atas mereka dalam perkara ini, lalu Nabi menolaknya.[23]

Ketika kita mekorelasikan ayat ini maka pada ayat pertama turun karna penolakan atas orang yang tidak mau turun peran  dan ayat kedua adalah perintah untuk berlaku adil terhadap semua perkara. Nah letak kesesuaian ayat tersebut adalah bagaiman seorang rakyat menaati atas perintah Allah, Rasul dan para pemimpin mereka. Kemudian sebaliknya para pemimpin tersebut bagaimana berlaku adil terhadap rakyat-rakyatnya tanpa memandang bulu dan warna. Ketika para rakyat yang disimbolkan dalam asbabun nuzul adalah pasukan mampu untuk menaati aturan-aturan yang telahh ditetapkan oleh pemerintah begitupun pemerintah mampu untuk berlaku adil terhadap raklyatnya, maka apa yang disebutkan opleh akhir ayat ke 59 surat An-nisa yaitu keutamaan dan akibat yang baik dapat terealisasikan. Keutamaan menurut hemat kami dalam hal ini adalah adanya keseimbangan antara pemerintah dan rakyat biasa.  Kemudian akibat adalah kesejahteraan, damai dan makmur.

Inilah korelasi di antara dua ayat tersebut. Bagaimana sesorang pemimpin mampu berklaku adil terhadap rakyatnya, begitupun rakyat mampu mematuhi rambu-rambu pemerintahan.

Kedamaian, kesejahteraan dan ketentraman tergantung terhadap siapa yang menjalani. Artinya kita ini semua menginginkan hal tersebut, maka dari itu hendaklah kita mampu merubah diri kita masing-masing minimal dengan merubah paradigma kita, cara berpikir kita, sehingga kita dapat bersaing dengan Negara- Negara yang lebih maju daripada Negara kita. Kita mampu berubah ketiak kita memulai dari sekarang.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari kedua ayat yang kami bahas di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa inti dari ayat tersebut adalah:

  1. Umat mampu taat kepada perintah Allah SWT dengan segala keikhlasan tanpa ada kata tidak mau.
  2. Bagaimana umat taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Rasul, karena menaati Rasul adalah merupakan sebagian daripada perintah Allah.
  3. Taat terhadap ulil amri, karena ulil amri merupakan pelanjut amanah Rasul-rasul, maka menaatinya adalah hal yang wajib. Di zaman sekarang, ulil amrilah yang sangat berperang dalam kesejahteraan rakyatnya.
  4. Selain untuk taat terhadap Allah, Rasul dan ulil amri, juga diwajibkan bagaimana kita berlaku adil terhadap semua perkara sebagaimana yang telah dilakukan  oleh Nabi. Hal ini sangat diperlikan bagi seorang ulil amri.
  5. B.     SARAN

 

Tak ada manusia yang sempurna, sebagaimana dalam ungkapan “manusia tidak lupuh dari kesalahan dan kehilafan”, olehnya itu, setelah berusaha keras melakukan yang terbaik kita hanya bisa bertawaqqal kepada Allah sehingga kalau ada kesalahan kami menunggu kritik dan sarannya, dan benarnya itu datangya daari Allah swt. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.

 

 

DAPTAR PUSTAKA

Al baqi, Abdul Fuad Muhammad,1945,  Al mu’jam Al mufahras Li Al fadz Al Qur’ an Al Karim, Darul Kutub, Mesir.

As Suyuti, Jalaluddin Al Imam, 1986, lubab An nukul Fii Asbab An Nuzul, Mutiara, Surabaya.

Departemen Agama,  2005. Al-Qur’an dan terjemahannya, CV penerbit Diponegoro ; Bandung.

Hamka, Prof. Dr, 1983. Tafsir Al-Azhar, PT. Pustaka Panjimas ; Jakarta.

Bahreisy, Salim H dan Bahreisy, Said H, 2003, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, Victory Agencie, Kuala Lumpur

Quraish, Shihab Muhammad . 2007. Tafsir Al Misbah, Lentera Hati ;Jakarta.


[1] Muhammad fuad Abdul Baqi, Al mu’jam Al mufahras li Al fadz Al Qur’an Al karim ( Mesir; Darul Kutub , 1945), h. 430.

[2] Ibid., h. 212.

[3] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, Jilid II ( cet. IX; Jakarta: lentera Hati, 2007), h. 483.

[4] ibid

[5] ibid

[6] Ibid., h. 484.

[7] ibid

[8] ibid

[9] Prof dr Hamka, Tafsir Al Azhar,  Juz 4, 5, 6 ( Jakarta: Panjmas, 1983), h. 128.

[10]  ibid

[11]  ibid

[12]  ibid

[13] Ibid., h. 129.

[14] ibid

[15] Ibid., h. 132.

[17]Ibid., h. 118.

[18] Ibid., h.  119.

[19] H . Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, Jilid II( Kuala Lumpur: Victory Agencie, 2003), h. 113.

[20] ibid

[21] Al Imam jalaluddin As Suyuti, lubabun Nuqul fii Asbab An nuzul, ( Surabaya: Mutiara Ilmu, 1986), h. 163.

[22] ibid

[23] ibid

About karaengmattawang

saya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang berpeluang mendapatkan beasiswa keluar angkasa.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: