//
you're reading...
Uncategorized

Pemahaman Hadis Dilihat Dari Segi Bentuknya

PEMAHAMAN HADIS DILIHAT DARI SEGI BENTUKNYA

Pada prinsipnya, untuk memahami hadis Nabi harus memperhatikan beberapa petunjuk Al-Qur`an dan kondisi sosial masyarakat. Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam di samping Al-Qur`an berlaku untuk semua manusia. Walaupun demikian, masyarakat manusia pada setiap generasi dan tempat, selain memiliki berbagai kesamaan, juga memiliki berbagai perbedaan. Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT untuk semua ummat manusia dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Beliau selain dinyatakan sebagai Rasulullah, juga dinyatakan sebagai manusia biasa.

Nabi Muhammad SAW yang hidup di tengah-tengah masyarakat, di samping dibatasi oleh waktu dan tempat, juga diperhadapkan dengan berbagai peristiwa. Tidak jarang beliau menerima pertanyaan dari para sahabatnya dan memberi komentar terhadap peristiwa yang terjadi. Karena itu, segi-segi yang berkaitan erat dengan diri Nabi SAW dan suasana yang melatarbelakangi ataupun yang menyebabkan terjadinya hadis Nabi mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman suatu hadis. Dengan demikian, pemahaman terhadap hadis Nabi perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:

–       Bentuk matan dan cakupan petunjuknya

–       Fungsi Nabi SAW, dan

–       Latar belakang terjadinya hadis Nabi.

Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Nabi SAW adalah bahwa matan hadis memiliki bentuk yang beragam. Dilihat dari segi bentuk matannya, hadis Nabi ada yang berupa jami` al-kalim (ungkapan yang singkat, namun padat makna), tamsil (perumpamaan), ramzi (bahasa simbolik), dialog (bahasa percakapan), qiyasi (ungkapan analogi), mengandung kosa kata yang gharib (asing), atau pernyataan yang musykil. Insya Allah, beberapa bentuk matan ini akan kami paparkan.

  1. A.      JAMI` AL-KALIM

Kemampuan Nabi SAW untuk mengemukakan jami` al-kalim (bentuk jamaknya jawami` al-kalim), diketahui berdasarkan hadis Nabi SAW sendiri yang menyatakan:

…….عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( بعثت بجوامع الكلم  

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Saya diutus (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan yang singkat, namun padat makna….” (H.R. Jama`ah).

Berdasarkan pernyataan Nabi SAW tersebut, maka tidaklah mengherankan bila banyak dijumpai matan hadis Nabi yang berbentuk jawami` al-kalim. Hal itu merupakan salah satu keutamaan yang dimiliki oleh sabda-sabda Nabi SAW. berikut ini dikemukakan matan hadis yang berbentuk jawami` al-kalim tersebut:

  1. Perang itu siasat, hadis Nabi SAW berbunyi:

عن عمرو سمع جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم ( الحرب خدعة )

Artinya: Dari Amr beliau mendengar Jabir Bin Abdullah r.a. berkata, “Nabi SAW bersabda, “Perang itu siasat.” (H.R. Jama`ah, kecuali Abu Dawud).

Ulama sepakat membolehkan menerapkan siasat atau strategi dalam perang atas orang-orang kafir. Pemahaman terhadap petunjuk hadis tersebut sejalan dengan bunyi teksnya, bahwa setiap perang pastilah memakai siasat. Ketentuan yang demikian itu berlaku secara universal sebab tidak terikat oleh tempat dan waktu. Perang yang dilakukan dengan cara dan alat apa saja pastilah memerlukan siasat. Perang tanpa siasat sama dengan menyatakan takluk kepada lawan tanpa syarat.

  1. Minuman khamar, Hadis Nabi SAW berbunyi:

عن ابن عمر : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( كل مسكر خمر وكل مسكر حرام )

Artinya: Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap (minuman) yang memabukkan adalah khamar dan setiap (minuman) yang memabukkan adalah haram.” (H.R. Jama`ah).

 Hadis tersebut secara tekstual memberi petunjuk bahwa keharaman khamar tidak terikat oleh waktu dan tempat. Dalam hubungannya dengan kebijaksanaan dakwah, dispensasi terhadap orang-orang tertentu yang dibolehkan untuk sementara waktu meminum khamar memang ada sebagaimana yang dapat dipahami dari proses keharaman khamar dalam Al-Qur`an. Dispensasi itu untuk masa sekarang diterapkan, misalnya pada orang yang baru saja masuk Islam, sedang dia selama sebelum masuk Islam telah terbiasa meminum khamar. Dia diperkenankan untuk tidak sekaligus pada saat memeluk Islam menghentikan kebiasaannya itu; dia diperkenankan untuk secara bertahap, tetapi pasti, berusaha menghentikan kebiasaannya meminum khamar.

Dengan pemahaman yang demikian, maka dapatlah dinyatakan bahwa khamar adalah minuman haram. Namun secara temporal, kepada orang-orang tertentu meminum khamar dibolehkan dalam rangka kebijaksanaan dakwah. Hal tersebut menepis pendapat kalangan ahli tafsir dan ahli fikh yang menyatakan bahwa ketentuan hukum meminum khamar secara berangsur-angsur telah dinasakh oleh ayat yang secara tegas mengharamkan khamar, yakni pada surah Al-Maidah ayat 90.

Dari beberapa kutipan hadis di atas, dapatlah dinyatakan bahwa pada umumnya hadis-hadis Nabi yang berbentuk jawami` al-kalim menuntut pemahaman secara tekstual dan menunjukkan bagian dari ajaran Islam yang universal. Namun di antara hadis yang berbentuk jawami` al-kalim tersebut, ada juga yang dapat dilakukan pemahaman secara kontekstual dan menunjukkan adanya bagian ajaran Islam yang bersifat temporal, di samping yang universal.

  1. B.       BAHASA TAMSIL

Cukup banyak matan hadis Nabi yang berbentuk tamsil, antara lain sebagai berikut:

  1. Persaudaraan atas dasar iman, hadis Nabi SAW berbunyi:

عن أبي موسى : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا ) . ثم شبك بين أصابعه

Artinya: Dari Abu Musa r.a., dari Nabi SAW telah bersabda, “Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya ibarat bangunan; bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya sambil bertelekan (menjalinkan jari-jari tangannya).” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Hadis Nabi tersebut mengemukakan tamsil bagi orang-orang yang beriman sebagai bangunan. Tamsil tersebut sangat logis dan berlaku tanpa terikat oleh waktu dan tempat sebab setiap bangunan pastilah bagian-bagiannya berfungsi memperkokoh bagian-bagian lainnya. Demikian pula seharusnya orang-orang yang beriman, yang satu memperkokoh yang lainnya dan tidak berusaha untuk saling menjatuhkan.

Hadis yang berbentuk tamsil tersebut mengandung ajaran Islam yang menekankan bahwa persaudaraan antar muslim terikat oleh kesamaan iman. Ajaran tersebut bersifat universal. Salah satu buktinya adalah rasa keprihatinan yang ditunjukkan oleh umat Islam di Indonesia dan di negara-negara lainnya atas nasib buruk yang menimpa ummat Islam di Bosnia Herzegovina. Walaupun mereka tidak satu bangsa dan tidak satu tanah air, namun penderitaan sama-sama mereka rasakan karena mereka terikat oleh kesamaan iman. Hadis ungkapan tamsil ini juga memperkuat petunjuk Al-Qur`an surah Al-Hujurat ayat 10 yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara; dan karenanya, damaikanlah antara kedua saudaramu itu…”.

  1. Dunia sebagai penjara, Hadis Nabi SAW berbunyi:

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

Artinya: Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.” (H.R. Jama`ah, kecuali Bukhari dan Abu Dawud).

Secara tekstual, hadis tersebut menjelaskan bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman. Karenanya, selama hidup di dunia orang beriman harus selalu dalam penderitaan. Kebahagiaan hidup barulah dirasakan oleh orang yang beriman tatkala telah berada dalam surga, yakni di akhirat kelak. Bagi orang kafir, hidup di dunia ini adalah surga. Di akhirat, orang kafir berada dalam neraka.

Sementara An-Nawawi (676 H/1277 M) mengatakan bahwa setiap orang beriman seperti terpenjara di dunia karena ketaatannya kepada perintah Allah menjadikan ia terhalang untuk memenuhi keinginan-keinginannya, tetapi kelak ia akan mendapatkan surga di akhirat sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Sementara bagi orang-orang kafir, dunia bagaikan surga, tempat memenuhi keinginan-keinginan secara bebas, tetapi di akhirat kelak akan mendapat azab.

Ada kalangan ulama yang menyatakan bahwa kualitas matan hadis tersebut lemah (dha`if), bahkan palsu. Alasannya, kandungan matan hadis tersebut bertentangan dengan petunjuk umum agama Islam yang mendorong para pemeluknya untuk bekerja keras untuk kebaikan hidup di dunia, di samping untuk kebaikan hidup di akhirat.

Penilaian yang demikian itu, wajar timbul karena pemahaman yang digunakan adalah pemahaman tekstual. Padahal matan hadis tersebut sangat dimungkinkan untuk dipahami secara kontekstual. Kata “penjara” dalam hadis itu memberi petunjuk adanya perintah berupa kewajiban dan anjuran, di samping adanya larangan berup hokum makruh dan haram. Bagi orang beriman, kegiatan hidup di dunia ini tidak bebas tanpa batas. Ibarat penghuni penjara, dia dibatasi hidupnya oleh berbagai perintah dan larangan. Bagi orang kafir, dunia adalah surga sebab dalam menempuh hidup, dia bebas dari perintah dan larangan tersebut. Hal ini tidaklah berarti bahwa bagi orang kafir tidak dibatasi oleh hokum atau aturan-aturan, tetapi yang dimaksud adalah hokum atau aturan-aturan agama yang datangnya dari Allah SWT dan rasul-Nya, khususnya aturan-aturan yang bersifat vertikal.

 Dari pemahaman secara kontekstual terhadap hadis-hadis yang berbentuk tamsil sebagaimana telah dikutip di atas dapatlah disimpulkan bahwa ajaran Islam yang dikemukakannya bersifat universal.

  1. C.      UNGKAPAN SIMBOLIK

Sebagaimana halnya di dalam Al-Qur`an, di dalam hadis Nabi juga dikenal adanya ungkapan yang berbentuk simbolik. Penetapan bahwa ungkapan suatu ayat ataupun suatu hadis berbentuk simbolik adakalanya mengundang perbedaan pendapat. Bagi yang berpegang pada pernyataan secara tekstual, ungkapan yang bersangkutan dinyatakan sebagai bukan simbolik.

Berikut ini dikemukakan salah satu matan hadis yang merngandung ungkapan simbolik, hadis tentang Dajjal yang berbunyi:

عن عبد الله قال : ذكر الدجال عند النبي صلى الله عليه و سلم فقال ( إن الله لا يخفى عليكم إن الله ليس بأعور – وأشار بيده إلى عينه – وإن المسيح الدجال أعور العين اليمنى كأن عينه عنبة طافية )

Artinya: Dari Abdullah beliau berkata,”Dajjal diperbincangkan di sisi Rasulullah SAW. kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah sudah sangat jelas bagi kalian (tidak ada yang serupa dengan-Nya) dan sesungguhnya Allah tidak buta sebelah mata, dan beliau menunjuk matanya. Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal itu buta matanya sebelah kanan, matanya seperti buah anggur yang timbul.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Pernyataan bahwa Allah tidak buta sebelah mata adalah ungkapan simbolik. Allah Maha Suci dari segala sifat yang menyamakan-Nya dengan makhluk. Ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai kekuasaan. Jadi maksud ungkapan tersebut adalah kekuasaan yang sempurna.

Demikian pula halnya pernyataan bahwa Dajjal itu buta matanya sebelah kanan merupakan ungkapan simbolik. Bahkan, dari Dajjal juga merupakan ungkapan simbolik. Yakni, keadaan yang penuh ketimpangan; para penguasa pada saat itu bersikap lalim, kaum dhuafa` tidak diperhatikan, amanah dikhianati, dan berbagai kemaksiatan lainnya telah melanda di tengah-tengah masyarakat. Pemahaman semacam ini adalah pemahaman secara kontekstual.

Berbeda dengan pemahaman tersebut, di dalam berbagai kitab syarah hadis dijelaskan bahwa Dajjal adalah makhluk yang gambaran fisiknya antara lain sebagaimana disebutkan oleh berbagai matan hadis Nabi. Buta sebelah mata kanannya dan di antara dua matanya tertulis kata “kafir”. Pemahaman yang demikian adalah pemahaman secara tekstual.

Syekh Muhammad Al-Gazali memahami kata “Dajjal” di dalam hadis tersebut sebagai salah seorang pemimpin kaum Yahudi, termasuk para ahli ilmu mereka yang terbesar. Dalam dirinya termanifestasi jiwa kaum Yahudi yang terputus hubungannya dengan Allah, bahkan memusuhinya. Hanya saja, Al-Ghazali menilai sosok Dajjal itu dari kalangan Yahudi, sementara Syuhudi Ismail menilai berasal dari kalangan pemimpin ummat atau penguasa secara umum.

  1. D.      BAHASA PERCAKAPAN

  Seperti halnya dengan manusia lainnya, Nabi SAW juga hidup di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, cukup banyak matan hadis Nabi yang berbentuk percakapan (dialog) dengan anggota masyarakat. Hadis Nabi yang berisi dialog, antara lain sebagai berikut:

  1. Hadis tentang amal yang paling utama

  عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه و سلم أي الإسلام خير ؟ قال تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف

Artinya: Dari Abdullah Bin Umar r.a. bahwasanya seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW, “Amalan Islam yang manakah yang paling baik?” Nabi menjawab, “Kamu memberi makan dan kamu menyebarkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa`i, dan Ahmad).

Memberi makan kepada orang yang menghajatkannya dan menyebarkan salam memang salah satu ajaran Islam yang bersifat universal. Namun dalam hal “amalan yang lebih baik”, maka hadis tersebut dapat berkedudukan sebagai temporal sebab ada beberapa matan hadis lainnya yang memberi petunjuk tentang amalan yang lebih baik, namun jawaban Nabi berbeda-beda.

Sebagai contoh, hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa r.a. menyatakan bahwa amalan yang paling baik ialah seorang muslim yang selamat dari gangguan tangan dan mulutnya. Ada pula hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa amalan yang paling baik ialah berjihad di jalan Allah. Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mas`ud r.a. mengatakan bahwa amalan yang paling afdhal ialah shalat pada waktunya.

Dari contoh-contoh hadis di atas, dapatlah dipahami bahwa amal yang termasuk lebih utama atau lebih baik itu ternyata bermacam-macam. Hadis-hadis tersebut dapat pula dipahami bahwa untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama (senada), ternyata dapat saja jawabannya berbeda-beda. Perbedaan materi jawaban sesungguhnya tidaklah bersifat subtantif. Yang subtantif, ada dua kemungkinan, yakni:

–          Relevansi antara keadaan orang yang bertanya dan materi jawaban yang diberikan, dan

–          Relevansi antara keadaan kelompok masyarakat tertentu dengan materi jawaban yang diberikan.

Dengan demikian, jawaban Nabi atas pertanyaan-pertanyaan yang sama (senada) itu bersifat temporal, tepatnya kondisional dan bukan universal.

Berdasarkan keterangan di atas, pendekatan yang lebih tepat digunakan menghadapi hadis-hadis seperti itu (amalan yang paling utama) adalah pendekatan psikologi. Yakni, Nabi SAW memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan “amal yang utama” dengan mempertimbangkan keadaan kejiwaan orang yang bertanya.

  1. Berbuat adil kepada anak, hadis Nabi yang berbunyi:

عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير رضي الله عنهما وهو على المنبر يقول : أعطاني أبي عطية فقالت عمرة بنت رواحة لا أرضى حتى تشهد رسول الله صلى الله عليه و سلم فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال إني أعطيت ابني من عمرة بنت رواحة عطية فأمرتني أن أشهدك يا رسول الله قال ( أعطيت سائر ولدك مثل هذا ) . قال لا قال ( فاتقوا الله واعدلوا بين أولادكم ) . قال فرجع فرد عطيته

Artinya: Dari Amir berkata, “Saya telah mendengar Nu`man Bin Basyir r.a. berkata di atas mimbar, “Saya telah diberi suatu pemberian oleh ayah saya, tetapi (ibu saya) Amrah Binti Rawahah tidak merestuinya, sehingga (pemberian itu) dipersaksikan kepada Rasulullah SAW. kemudian (ayah saya) datang (menghadap) kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Sungguh saya telah memberi anak saya yang dari Amrah Binti Rawahah ini suatu pemberian. Dia (Amrah) menyuruh saya mempersaksikan (pemberian saya itu) kepada anda, Ya Rasulullah.” Beliau menjawab, “Apakah kamu member semua anakmu seperti (yang kamu lakukan kepada) anakmu ini?” Dia (ayah saya) menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.” Dia (An-Nu`man) berkata, “Maka dia (ayah saya) pulang dan menarik kembali (membatalkan) pemberiannya.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa`i, dan Ahmad).

Bersikap adil merupakan salah satu ajaran dasar Islam. Sikap itu berlaku juga bagi orang tua terhadap anak-anaknya. Dengan demikian, secara tekstual hadis tersebut menunjukkan salah satu ajaran Islam yang bersifat universal.

Dari beberapa kutipan hadis di atas, dapatlah dinyatakan bahwa dalam hadis-hadis Nabi yang berbentuk dialog, ternyata ada ajaran Islam yang bersifat temporal dan ada pula ajaran Islam yang bersifat universal.

  1. E.       UNGKAPAN ANALOGI

Adakalanya matan hadis Nabi berbentuk ungkapan analogi, terlihat adanya hubungan yang sangat logis. Berikut ini dikemukakan dua matan hadis sebagai contoh yang mengandung ungkapan analogi ytersebut.

  1. Warna kulit anak dan ayahnya, hadis Nabi berbunyi:

عن أبي هريرة : أن أعرابيا أتى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال إن امرأتي ولدت غلاما أسود وإني أنكرته فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم ( هل لك من إبل ) . قال نعم قال ( فما ألوانها ) . قال حمر قال ( هل فيها من أورق ) . قال إن فيها لورقا قال ( فأنى ترى ذلك جاءها ) . قال يا رسول الله عرق نزعها . قال ( ولعل هذا عرق نزعه ) . ولم يرخص له في الانتفاء منه

Artinya: Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki Arab (dari Bani Fazarah) mengadu kepada Nabi. Dia berkata, “Sesungguhnya isteri saya telah melahirkan seorang anak laki-laki, kulitnya hitam. Saya menyangkalnya (karena kulitnya berbeda sekali dengan kulit saya).” Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah kamu mempunyai beberapa unta?” Orang itu menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apa saja warna-warna kulitnya?” Dia menjawab, “Merah.” Beliau bertanya lagi, “Adakah di antaranya yang berwarna (berkulit) abu-abu?” Dia menjawab, “Sesungguhnya di antaranya ada (unta yang) berkulit abu-abu.” Beliau bersabda, “Maka sesungguhnya saya menduga juga (bahwa unta merah milikmu itu) datang (berasal) darinya (unta yang berkulit abu-abu tersebut).” Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, keturunan (unta merahku itu) berasal darinya (unta yang berkulit abu-abu tersebut).” Nabi lalu menyatakan, “(Masalah anakmu yang berkulit hitam itu) semoga berasal juga dari keturunan (nenek moyang)-nya.” Dan beliau tidak membiarkan (orang itu) mengingkari anaknya.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa`i, dan Ahmad).

Secara tekstual, matan hadis dalam bentuk ungkapan analogi tersebut menyatakan bahwa ada kesamaan antara ras yang diturunkan oleh manusia dan unta. Terjadinya perbedaan warna kulit antara anak dan ayah dapat disebabkan oleh warna kulit yang berasal dari nenek moyang bagi anak tersebut. Ketentuan demikian itu, bersifat universal. Ungkapan analogi dalam kasus ini dikuatkan pula oleh kalangan medis.

  1. Penyaluran hasrat seksual yang bernilai sedekah

Dalam suatu matan hadis Nabi yang cukup panjang dikemukakan perbuatan yang tergolong sedekah, antara lain dikemukakan bahwa menyalurkan hasrat seksual (kepada perempuan yang halal) adalah sedekah.

عن أبي ذر أن ناسا من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم قالوا للنبي صلى الله عليه و سلم يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ويتصدقون بفضول أموالهم قال : أو ليس قد جعل الله لكم ما تصدقون ؟ إن بكل تسبيحة صدقة وكل تكبيرة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن منكر صدقة وفي بضع أحدكم صدقة قالوا يا رسول الله أياتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرا

Artinya: Dari Abu Dzar r.a. bahwasanya orang-orang dari kalangan sahabat Nabi SAW berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala yang besar. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka melakukan puasa sebagaimana kami melakukan puasa, namun mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu bagimu untuk bersedekah? Sesungguhnhya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap takbir adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang dari pada kemungkaran adalah sedekah, bahkan persetubuhan salah seorang dari padamu (dengan isterinya) adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, lalu ia mendapat pahala karenanya?” Rasulullah SAW balik bertanya, “Bagaimana menurut kalian jika salah seorang di antara kalian melampiaskan syahwatnya pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, tentu ia akan memperoleh pahala.” (H.R. Muslim).

Matan hadis dalam bentuk ungkapan analogi tersebut menyatakan bahwa kalau penyaluran hasrat seksual secara haram adalah perbuatan dosa, maka penyaluran hasrat seksual secara halal merupakan perbuatan yang diberi pahala. Secara tekstual, hadis tersebut telah member petunjuk tentang ajaran Islam yang bersifat universal sebab ketentuan itu berlaku untuk semua waktu dan tempat.

  1. F.       KOSA KATA YANG GHARIB

Sebenarnya, hadis Rasulullah SAW tidak merupakan sesuatu yang gharib bagi bangsa arab pada masa awal Islam. Karena Nabi SAW merupakan orang yang paling fasih berbicara, paling tegas, paling tuntas mengemukakan fikiran, paling jelas argumennya, dan paling mengenal situasi pembicaraan. Sehingga beliau akan memberikan khitab kepada masyarakat Arab menurut ragam dialek mereka sesuai dengan pemahaman mereka. Bila ada sebagaian kata yang gharib menurut sebagian sahabat, maka mereka akan menanyakannya kepada beliau, dan beliaupun akan menjelaskannya.

Tak berapa lama kemudian, setelah Rasulullah SAW wafat, banyak warga lain yang masuk Islam yang belajar bahasa Arab sebagai suatu kemestian untuk alat komunikasi mereka. Sangat wajar bila mereka menemukan kata-kata gharib dalam hadis Nabi SAW lebih banyak daripada yang ditemukan oleh anak-anak Arab sendiri. Selanjutnya muncul pula generasi-generasi baru yang membutuhkan pengetahuan tentang banyak sekali kata-kata yang ada dalam hadis. Ulama berusaha menjelaskannya, bahkan ada yang memberikan uraian tentang beberapa hadis secara lengkap. Sampai-sampai Imam Abdurrahman Bin Mahdy mengatakan, “Seandainya aku menghadapi persoalan seperti ini yang telah aku lewatkan, maka sungguh aku menuliskan untuk setiap hadis tafsir atau penjelasannya.” Sementara yang lain menilai, bahwa menjelaskan hadis lebih baik daripada meriwayatkannya.

Demikianlah andil ulama hadis dan ulama bahasa dalam menjelaskan dan menguraikan kata-kata hadis agar masyarakat mudah memahaminya dan mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka menyusun berbagai kitab yang muncul dalam waktu yang berdekatan pada akhir-akhir abad kedua dan awal-awal abad ketiga hijriah.

  1. G.      PERNYATAAN YANG MUSYKIL

bentuk hadis senmacam ini kelihatannya nampak bertentangan, namun para ulama menghilangkan pertentangan itu atau mengkompromikannya. Sebagai contoh, ada dua hadis yang kelihatannya bertentangan yang berkaitan dengan air yang terkena najis. Hadis Nabi SAW:

إِنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Air tidak bisa dinajiskan oleh sesuatupun.”

Di hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

إذا بلغ الماء قلتين لم ينجسه شيء

“Bila air telah mencapai dua qullah, maka tidak akan membawa najis.”

Yang terakhir ini menunjukkan, bahwa bila air itu kurang dari dua qullah, maka akan membawa najis. Ini jelas berbeda dengan hadis yang pertama.

Ibnu Qutaibah berkata, “Kami akan mengatakan bahwa hadis kedua itu tidak bertentangan dengan hadis yang pertama. Rasul SAW menyabdakan hadis yang pertama berdasarkan kebiasaan dan yang paling banyak terlihat. Karena biasanya air yang ada di sumur-sumur ataupun di kolam-kolam jumlahnya banyak. Sehingga pernyataan beliau itu memiliki pengertian spesifik. Ini sama dengan orang yang mengatakan, “Banjir tak dapat dibendung oleh sesuatupun.” Padahal ada banjir yang terbendung oleh tembok. Yang dimaksud adalah banjir bandang, bukan banjir kecil. Sama juga dengan orang yang mengatakan, “Api tak dapat dimakan oleh sesuatupun.” Yang dimaksudkan bukan aoi lentera yang akan mati tertiup angin, bukan pula percikan api, tetapi yang dimaksudkan ialah api yang membara.”

Dengan demikian, pemahaman hadis dilihat dari segi bentuk matan dan cakupan petunjuknya terhadap hadis Nabi, jika dipahami secara tekstual menunjukkan ajaran Islam yang universal. Sedangkan jika dipahami secara kontekstual menunjukkan adanya bagian ajaran Islam yang temporal, di samping yang universal. Adakalanya suatu hadis (yang berbentuk simbolik) sulit dipahami dan bahkan dinyatakan lemah atau palsu, jika dipahami secara tekstual. Tetapi jika dipahami secara kontekstual hadis bersangkutan dapat dijadikan hujjah.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dinyatakan bahwa pemahaman terhadap hadis Nabi SAW dihubungkan dengan bentuk matan dan cakupan petunjuknya cenderung tekstual di samping kontekstual. Adapun kandungan petunjuk hadis tersebut, pada umumnya bersifat universal, kecuali untuk hadis-hadis tertentu seperti hadis dalam bentuk percakapan. Di samping itu, juga menunjukkan bahwa hadis yang dipahami secara tekstual menunjukkan kandungan petunjuknya bersifat universal, tetapi hadis yang dipahami secara kontekstual, kandungan petunjuknya ada yang bersifat universal dan ada pula yang bersifat temporal.

  

About karaengmattawang

saya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang berpeluang mendapatkan beasiswa keluar angkasa.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: