//
you're reading...
Uncategorized

Pemahaman Sabda Nabi Dilihat Dari Segiaplikasi Yang Berisi Ajaran Universal, Lokal, Dan Temporal

(Tugas kelompok)

Jurusan Tafsir Hadis Khusus

Semester VI

“PEMAHAMAN SABDA NABI DILIHAT DARI SEGIAPLIKASI YANG BERISI AJARAN UNIVERSAL, LOKAL, DAN TEMPORAL”

Oleh:

MUHAMMAD YUSUF

SALEHUDDIN MATTAWANG

FAKULTAS USHULUDDIN & FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDD

IN MAKASSAR

TAHUN 2011 M

Kata pengantar

Puja dan puji tiada hentinya kita berikan kepada Allah SWT the Master and Creator of everythin in this world. Yang memberikan kita berupa kekuatan dan kesehatan sehingga kita masih dapat bertatap muka ditempat yang begitu sederhana ini, tiada lain hanyalan untuk bertaqarrub kepada Allah SWT sang khalik pencipta alam semesta ini.

Salam dan taslim tak lupa kita haturkan kepada Rasulullah SAW yang membawa obor kedamaian ditengah-tengah gelapnya dunia ini, dan yang patut dicontohi sebagai uswatun hasanah “suri tauladan yang baik”.

Sebagai harapan semoga makalah yang kami bawakan bisa menjadi motivasi bagi kita semua, untuk terus menggali ilmu dan kami berharap semoga segala apa yang kita kerjakan mendapat ridho dari Allah SWT. Amien….

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB II PEMAHAMAN SABDA NABI DILIHAT DARI SEGIAPLIKASI YANG BERISI AJARAN UNIVERSAL, LOKAL, DAN TEMPORAL.

A. Hadits Nabi yang Berbentuk Jami’ul Kalim . . . . .

B. Bahasa Tamsil (Perumpamaan) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

C. Hadits yang berbentuk ungkapan simbolik . . . . . . . . . .

D. Bahasa Percakapan (dialog) . . . . . . .

BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PEMBUKAAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

As-Sunnah atau hadis Nabi saw. merupakan penafsiran Al-Qur’an, baik dari hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapannya secara praktis., hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi saw. m

erupakan perwujudan dari Al-Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karena itu, siapa saja yang ingin mengetahui tentang manhaj (metodologi) praktis Islam dengan segala karakteristik dan pokok-pokok ajarannya, maka hal itu dapat dipelajari secara rinci dan teraktualisasikan dalam sunnah Nabawiyah.

Hadis atau “sunnah” adalah segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi saw. baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’lun), ketetapan (taqrir) atau sifat khuluqiyyah (akhlak Nabi) dan khalqiyyah (sifat ciptaan atau bentuk tubuh Nabi).

Meskipun, hadis menduduki fungsi sebagai bayan (penjelas) bagi Al-Qur’an, akan tetapi dalam memahami sabda Nabi saw. relatif tidaklah mudah. Dibidang hadis, para muhadditsin telah merumuskan beberapa macam metode kajian hadis dalam upayanya membumikan pesan Tuhan lewat pernyataan verbal, aktifitas, dan taqrir Nabi saw.. Disamping itu, para ulama hadis juga mengenalkan berbagai teknik interpretasi dan model pendekatan dalam memahami hadis Nabi saw.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah kita melihat sesuai kandungannya?

2. Metode apa saja dalam mengetahui bentuk Matan hadis?

BAB II

PEMBAHASAN

PEMAHAMAN SABDA NABI DILIHAT DARI SEGIAPLIKASI YANG BERISI AJARAN UNIVERSAL, LOKAL, DAN TEMPORAL

Hadis sebagai sumber ajaran dan hukum

Islam adalah merupakan realisasi dan iman kepada Rasul saw, dan dua kalimat syahadat yang diikrarkan oleh setiap muslim, selain karena fungsi dari Hadis itu sendiri, yaitu sebagai penjelasan dan penafsir terhadap ayat-ayat Alquran yang bersifat umum.

Menurut petunjuk Alquran Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt. untuk semua umat manusia dan sabagai rahmat bagi semesta alam. Itu berarti kehadiran Muhammad saw. membawa kebajikan dan rahmat bagi semua umat manusia dalam segala waktu dan tempat. Kalau begitu, Hadis Nabi yang merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Alquran mengandung ajaran yang bersifat universal, temporal dan lokal.

Dalam Alquran Nabi Muhammad saw selain sebagai Rasul juga dinyatakan sebagai manusia biasa. Dalam sejarah, Nabi Muhammad saw. berperan dalam banyak fungsi. Imam Al-Qarafi dianggap sebagai orang pertama yang memilah-milah ucapan dan sikap Nabi Muhammad saw. Nabi saw terkadang berperan sebagai Imam, Qadi’ atau mufti dan lain sebagainya.

Pendapat diatas, bagi penganut paham kontekstual dijabarkan dan dikembangkan lebih jauh, sehingga setiap Hadis dicari konteksnya, apakah ia diucapkan/diperankan oleh manusia agung itu dalam kedudukan beliau sebagai :

1. Rasul, dan karena itu pasti benar, sebab bersumber dari Allah swt.

2. Mufti, yang memberikan fatwa berdasarkan pemahaman dan wewenang yang diberikan Allah swt. kepadanya. Dan ini pun pasti benar serta berlaku umum bagi kaum muslim.

3. Hakim, yang memutuskan perkara. Dalam hal ini putusan tersebut walaupun secara formal pasti benar, namun secara material adakalanya keliru. Hal ini diakibatkan oleh kemampuan salah satu pihak yang bersengketa dalam menutupi kebenaran, sementara disisi lain keputusan ini hanya berlaku bagi pihak-pihak yang bersengketa.

4. Pemimpin suatu masyarakat, yang menyesuaikan sikap, bimbingan dan petunjuknya dengan kondisi dan buda

ya masyarakat yang beliau temui. Dalam hal ini bimbingan dan sikap beliau pasti benar dan sesuai dengan masyarakat. Namun bagi masyarakat yang lain, mereka dapat mempelajari nilai-nilai yang erkandung dalam petunjuk dan bimbingnitu sesuai dengan kondisi masing-masing masyarakat.

5. Pribadi, baik karena beliau :

• memiliki kekhususan dan hak-hak tertentu yang dianugerahkan atau dibebankan Allah swt. dalam rangka menjalankan tugas kenabiannya, seperti kewajiban shalat malam atau kebolehan menghimpun lebih dari empat isteri.

• Kekhususan yang diakibatkan olehh sifat manusia seperti perasaan suka dan tidak suka kepada seseorang.

Untuk itu Hadis Nabi saw. yang merupakan bagian dari kebijaksanaan beliau dimungkinkan untuk menimbulkan pertentangan antara satu Hadis yang sanadnya shahih dengan Hadis lain yang sanadnya juga sahih. Guna mengatasi hal tersebut muncul satu kajian tentang Hadis yang dapat dipahami secara tekstual dan kontekstual.

Persoalan pemahaman makna Hadits tidak dapat di pisahkan dari penelitian matan, pemahaman Hadits dengan beberapa macam pendekatan ternyata memang di perlukan, pendekatan di maksud adalah suatu acuan yang dapat di jadikan pegangan untuk melihat, meneliti dan menangkap sesuatu yang berkaitan dengan Hadits.

Pendekatan ini dilakukan dengan cara untuk melihat bentuk-bentuk kebahasaan dalam matan Hadits. Pendekatan bahasa dalam penelitian matan akan sangat membantu terhadap kegiatan penelitian yang berhubungan dengan kandungan petunjuk dari matan Hadits yang bersangkutan. Berkenaan dengan bentuk matan, Hadits Nabi ada yang berbentuk Jami’ al-kalim (ungkapan yang singkat tapi padat dengan makna), Tamtsil (perumpamaan), bahasa simbolik, bahasa percakapan (dialog), selain itu juga matan Hadits yang berbentuk Jami’ al-kalim adakalanya juga berbentuk Tamtsil, dialog ataupun lainnya. Disini pemakalah akan membahas tentang makalah tersebut.

A. Hadits Nabi yang Berbentuk Jam

i’ul Kalim

Jami’ul kalim adalah ungkapan yang singkat, namun padat makna. Berikut Hadits yang menunjukkan kemampuan Nabi mengemukakan Jami’ul kalim :

بعثت بجوامع الكلام) رواه البخارى ومسلم وغيرها عن أبى هريرة(

“Saya di bangkit (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan yang singkat, namun padat makna”. (HR. al-Bukhori, Muslim dan lain-lain, dari Abu Hurairah)

Berdasarkan pernyataan Nabi tersebut maka tidaklah mengherankan bila banyak di jumpai matan Hadits Nabi yang berbentuk Jami’ al-kalim. hal itu merupakan salah satu keutamaan yang dimiliki oleh sabda-sabda Nabi. Berikut ini dikemukakan beberapa macam matan Hadits yang berbentuk Jwami’ al-kalim tersebut.

seperti hanya sabda :

الحرب خدعة) رواه البخارى ومسلم وغيرها عن جابر بن عبد الله(

“Perang adalah siasat”, ( Hadits riwayat al-Bukhori, Muslim, dan dari lainya, dari shahabat Jabir bin Abdillah ).

Pemahaman terhadap petunjuk sejalan dengan bunyi teksnya, yakni bahwa setiap perang pastilah memakai siasat. ketentuan yang demikian itu berlaku secara universal sebab tidak terikat oleh tempat dan waktu tententu. Perang yang dilakukan dengan cara dan alat apa saja pastilah memerlukan siasat. perang tanpa siasat sama dengan menyatakan takluk kepada lawan tanpa syarat.

B. Bahasa Tamsil (Perumpamaan)

Cukup banyak matan Hadits yang berbentuk tamsil, salah satu Hadits yang metanya berupa percakapan adalah H

adits yang menerangkan tentang persaudaraan atas dasar iman.

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدبعضه بعضا) رواه البخارى ومسلم وغيرها عن أبى موسى الأشعري(

Orang yang beriman terhadap orang yang beriman lainnya ibarat bangunan bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainya.( HR, Al-Bukhori, Muslim, dan Turmudzi dan Abu Musa Al-Asy’ari ).

Hadits Nabi tersebut mengemukakan tamsil bagi orang – orang yang beriman sebagai bangunan, tamsil tersebut sangat logis dan berlaku tanpa terikat oleh waktu dan tempat sebab setiap bangunan pastilah bagian bagiannya berfungsi memperkokoh bagian –bagian yang lainnya. Orang beriman bengitu pula seharusnya, yakni yang satu memperkuat yang lainnya dan tidak berusahan untuk saling menjatuhkan.

Dilihat dari aspek kebahasaan, matan Hadits Nabi :

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدبعضه بعضا

Matan Hadits tersebut mengandung ungkapan gaya bahasa tasybih tamzil, jika dilihat dari segi wajah syibih-nya. Sebuah ungkapan tasybih disebut tasybih tamzil bila mana wajah syibihnya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal. Nabi Muhammad menyerupakan gambaran dua orang mukmin dengan sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling meperkuat. jika dicermati, maka wajah syibihnya diambil dari beberapa hal yaitu :

a. Adanya bagian-bagian yang saling memperkuat musyabah dalam Hadits di atas adalah gambaran dari orang mukmin dengan orang mikmin yang lainnya.

b. Musyabah bih-nya adalah gambaran bangunan yang bagian – bagiannya saling memperkokoh

c. Wajah syibih-nya adalah gambaran bagian-bagian bangunan yang memperkuat dan mempererat sebuah bangunan.

C. Hadits yang berbentuk ungkapan simbolik

Sebagaimana halnya dalam Al-Qur’an, da

lam Hadits Nabi juga dikenal adanya ungkapan yang berbentuk simbolik. penetapan bahwa ungkapan suatu ayat ataupun suatu Hadits berentuk simbolilk adakalanya mengundang perbedaan pendapat. bagi yang berpegang pada pernyataan secara tekstual, maka ungkapan yang berssangkutan dinyatakan sebagai bukan simbolik.

Sebagai contoh Hadits yang mengandung ungkapan simbalik adalah : Ususnya orang muknin dan orang kafir.

Nabi bersabda :

المؤمن يأكل فى معى واحد والكافر يأكل فى سبعة أمعاء) رواه البخارى والترميذى وأحمد عن أبن عمر(

Orang yang beriman itu makan dengan satu usus (perut), sedang orang kafir makan dengan tujuh usus. ( Hadits riwayat Bukhori, Turmudzi, dan Ahmad, dari ibnu Umar).

Secara tekstual, Hadits tersebut menjelasan bahwa ususnya orang beriman berbeda dengan ususnya orang kafir, padahal kenyataan yang lazim perbedaan anatomi tubuh manusia tidak disebabkan oleh perbedaan iman. dengan demikian, penyataan Hadits tersebut merupakan ungkaan simbolik, itu berarti harus dipaami secara kontekstual.

Perbedaan usus dalam matan Hadits tersebut merupakan perbedaan sikap atau pandangan dalam menghadapi nikmat Allah, termasuk tatkala makan orang beriman memandang makan bukan sebagai tujuan hidup, sedang orang kafir menempatkan makan sebagai bagian dari tujuan hidupnya. Karenanya, orang yang beriman mestinya tidak banyak menuntut dalam kelezatan makan, yang menuntut kelezatan makan pada umumnya adalah orang kafir. Disamping itu dapat dipahami juga bahwa orang yang beriman selalu bersyukur dalam memerima nikmat Allah, termasuk ketika makan, sedangkan orang kafir mengingkari nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya.

D. Bahasa Percakapan (dialog)

Sebagaimana telah dikemukakan dalam bab sebelumnya bahwa Nabi Muhammad hidup di tengah-tengah masyarakat. Karena cukup banyak matan Hadits Nabi yang berbentuk percakapan dengan para anggota masyarakat . Berikut ini adalah contoh sebuah Hadits yang modelnya dialog :

أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم، أي الإسلام خير ؟ قال : تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف)متفق عليه عن عبد الله بن عمر(

Artinya : Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi:” Amalan Islam yang manakah yang lebih baik?”Nabi menjawab” kamu memberi makan orang yang menghajatkannya: dan kamu menyebarkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”.

Memberi makna orang yang menghajatkan dan menyebarkan salam memang salah satu ajaran Islam yang bersifat universal. Namun dalam hal ini ” amal yang lebih baik “, maka Hadits tersebut dapat berkedudukan sebagai temporal sebab ada beberapa Hadits lainnya yang memberi petunjuk tentang amal yang lebih baik, namun jawaban Nabi berbeda-beda sebagai mana yang dikutip sebagai berikut ini.

Artinya : mereka( para sahabat Nabi) berkata: ” ya Rasulullah, amalan Islam yang manakah yang lebih utama?, beliau menjawab:” yaitu orang yang kaum muslimin yang selamat dari ( gangguan) mulutnya dan tangannya.

Kata khoirun dan afdholu memang berbeda m

aknanya, namun yang dimagsud dalam dialog tersebut terdapat unsur yang sama, yakni pertanayaan yang menanyakan ama yang paling utama yang diajarkan oleh Islam. dan banyak lagi keterangan dalam Hadits yang lainya tentang perihal amalan yang paling utama.

Dari kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa dalam Hadits-Hadits Nabi yang sifatnya dialog, ada ajaran Islam yang bersifat lokal, temporal dan bersifat universal.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hadis sebagai sumber ajaran dan hukum Islam adalah merupakan realisasi dan iman kepada Rasul saw, dan dua kalimat syahadat yang diikrarkan oleh setiap muslim, selain karena fungsi dari Hadis itu sendiri, yaitu sebagai penjelasan dan penafsir terhadap ayat-ayat Alquran yang bersifat umum.

2. Dalam sejarah, Nabi Muhammad saw. berperan dalam banyak fungsi. Imam Al-Qarafi dianggap sebagai orang pertama yang memilah-milah ucapan dan sikap Nabi Muhammad saw. Nabi saw t

erkadang berperan sebagai Imam, Qadi’ atau Mufti dan lain sebagainya.

3. Berkenaan dengan bentuk matan, Hadits Nabi ada yang berbentuk Jami’ al-kalim (ungkapan yang singkat tapi padat dengan makna), Tamtsil (perumpamaan), bahasa simbolik, bahasa percakapan (dialog), selain itu juga matan Hadits yang berbentuk Jami’ al-kalim adakalanya juga berbentuk Tamtsil, dialog ataupun lainnya.

B. Saran dan kritikan

Tiada makhluk yang diciptakan Allah di muka bumi ini dengan secara sempurna, setiap darinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Olehnya itu, kami selaku pemakalah berharap saran dan kritikan yang membangun. Agar supaya dikemudian hari makalah kami bisa lebih baik lagi.

DAFAR PUSTAKA

Ahmad Arifuddin , Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi : Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail .Cet.1 ; Jakarta : Renaisans, 2005.

Ismail Syuhudi , “Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma’ani al-Hadis tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal” Jakarta : Bulan Bintang, 1994.

Salim Dalal Muhammad Abu , “Tari

k

h as-Sunnah an-Nabawiyah al-Muthahharah” . Kairo : Jami’atul Azhar, 2006.

Umar Nasaruddin , “Deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an dan Hadis”. Cet.I ; Jakarta : Rahmat Semesta Center, 2008.

About karaengmattawang

saya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang berpeluang mendapatkan beasiswa keluar angkasa.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: